Jumat, 16 Agustus 2013

Upaya Mengisi Kemerdekaan

Sudah 68 tahun bangsa Indonesia berjalan dalam alam kemerdekaan, tetapi cita-cita mewujudkan masyarakat adil makmur masih kedodoran.

Semangat perjuangan dan pengorbanan para pendiri bangsa, yang menjadi salah satu modal dasar pembentukan negara dan bangsa merdeka, terkesan kurang dipelihara dan dibiarkan surut jauh ke belakang. Jangankan menjaga semangat berkorban, sikap kepedulian pun luntur.

Prinsip seperjuangan dan sependeritaan sebagai kebajikan dalam hidup bernegara dan berbangsa, sebagaimana sering ditekankan Bung Karno, melemah. Begitu juga tekad hidup bersama sebagai dasar keberadaan sebuah bangsa, seperti disampaikan filsuf Perancis, Ernest Renan, cenderung mengendur. Elite asyik dengan urusan kepentingannya sendiri, semakin jauh dari urusan rakyat banyak. Elite dan rakyat berjalan sendiri-sendiri.

Tentu saja harus diakui dan diapresiasi berbagai kemajuan dan pencapaian yang diraih bangsa Indonesia selama 68 tahun era kemerdekaan. Namun, kualitas kemajuan dan pencapaian sesungguhnya bisa jauh lebih tinggi jika memiliki komitmen yang sama untuk Indonesia yang lebih baik.

Sejauh ini komitmen untuk Indonesia yang lebih baik cenderung menjadi bahan retorika, belum benar-benar diikat dalam tindakan nyata. Lebih memprihatinkan lagi, usaha menciptakan Indonesia yang sejahtera terus dihadang keras, antara lain oleh praktik korupsi yang merebak luas dari pusat sampai ke daerah-daerah.

Meski korupsi merupakan ancaman berbahaya, yang membuat banyak bangsa dan negara jatuh terperosok dalam sejarah dunia, perilaku macam itu justru cenderung mengganas seperti dirasakan belakangan ini. Praktik korupsi bukannya berkurang, melainkan meningkat.

Sebagai dampaknya, upaya mengisi kemerdekaan, terutama menciptakan kesejahteraan, menghadapi benturan hebat oleh praktik korupsi sebagai realitas yang berlapis-lapis. Kesenjangan kehidupan sosial ekonomi melebar. Puluhan juta orang masih hidup dalam kemiskinan.
Ketimpangan kesejahteraan yang melebar menggambarkan upaya mengisi kemerdekaan selama 68 tahun tidaklah optimal. Belum lagi sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara terus digoyah kalangan yang ingin menggeser Pancasila sebagai dasar negara.

Tidak kalah merisaukan bahaya hukum rimba sebagai dampak upaya penegakan hukum yang lemah. Tindakan kekerasan sebagai ekspresi main hakim sendiri marak di kalangan masyarakat banyak, sementara di kalangan elite muncul mafia, antara lain dalam bidang hukum, pengadilan, hutan, tambang, dan narkotika.

Kiranya momentum peringatan hari kemerdekaan dapat digunakan untuk berefleksi, mendorong terobosan agar bangsa Indonesia terbang lebih tinggi, bergerak lebih cepat, melangkah semakin kuat, tidak ketinggalan dari kemajuan bangsa lain di kawasan dan dunia.

(Tajuk Rencana Kompas, 16 Agustus 2013)









Terima Kasih sudah membagikan Artikel ini lewat :

FACEBOOK TWITTER GOOGLE+

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Facebook Twitter Instagram Pinterest Bloglovin' RSS Image Map

Powered by © Bloger.
>